Perjuangan dan Perjalananku Hingga ke Russia

Entah mulai dari mana saya menuliskannya, namun saya saat ini sedang berada di negara Federasi Russia dan kenyataanya seperti itu. Tidak pernah terbayangkan atau terpikirkan sewaktu masih anak-anak, setelah berajak dewasa (SMP/SMK), bahkan di bangku kuliahpun tidak pernah terpikirkan akan datang di Negara yang namanya Russia ini.

Jangankan ke Russia, kuliah ke pulau Jawa pun tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Manalah mungkin keluarga kami (Ayah dari desa Tadoy dan Ibu dari desa Muntoi), sanggup menyekolahkan saya di Jawa, di Salawesi saja masih berfikir dua kali untuk kuliah, bahkan saya sendiri tidak ingin kuliah lagi waktu itu (tahun 2005), lebih baik bekerja saja sambil membatu orang tua. Memang karena kami dari keluarga sederhana/susah maka jika berbicara kuliah hanya akan membebani orang tua saja.

Ayahku sendiri pensiun PNS Daerah di umur 60 Tahun (Tahun 2000), dan sejak saya di SMK (2003) Ayah yang sudah berumur diatas 60 tahun masih menjadi sopir angkutan umum untuk memenuhi kebutuhan keluarga kami. “Anak seperti saya hanyalah menyimpan cita-cita di lubuk hati yang dalam, serta harus tahu situasi saat itu”.

Mulai dari TK ayah yang menuntut kedisiplinan terus-menerus, ngak boleh terlambat ke sekolah, ketika sekolah di SD sengaja saya dimasukkan ke SDN 2 di desaku supaya masih ada murid yang sekolah disana namun ketika saya naik kelas 4SD sekolah itu tutup karena tidak ada guru dan murid lagi, maka sayapun dipindahkan ke SDN 1 hingga lulus tahun 1999.

Ketika pengumuman kelulusan di SD, saya meminta supaya sekolah di Kotamobagu (jaraknya kurang lebih 15KM dari desaku) karena disana ada SLTP atau Sekolah Teknik Negeri yang bisa langsung memilih jurusan. Kakaku sempat juga sekolah disana jurusan Listrik. Saya mengatakan: Ayah, saya memilih jurusan Bagunan saja karena kakak (Acep) sudah memilih jurusan Listrik waktu dulu sekolah disitu. Ayah dan Ibu tidak pernah memaksa saya untuk mengambil jurusan apapun, saya diberi kebebasan untuk memilih, asalkan jangan keluyuran disekolahan (sekolah baik2).

Pagi-pagi pukul 05:00 saya sudah siap menunggu angkot lewat biar ngak telat ke sekolah, kadang-kadang naik mobil yang membawa bahan-bahan ke pasar, ada juga mobil yang memuat ikan dari laut, ada juga mobil kijang, kadang mobil trek pun dicegat biar ngk telat, dan ada juga mobil yang bangkunya jejer berhadap-hadapan (6-6 kursi) (teman-teman ada yang sering mengejek kami dengan mobil baca doá). Waktu itu Ibu masih punya warung sehingga saya masih merasa nyaman saja ke sekolah tanpa terbebani, hingga ayah pensiun PNS daerah di Bolaang Mongondow tahun 2000. Ayah selalu mengajak saya ke pantai di Desa Tadoy untuk membantu menjemur Ikan Putih disaat musimnya, dan juga selalu meminta saya menanam tanaman tahunan di kebun jika pas hari libur, konsekwensinya jika saya berhenti sekolah berarti yang saya akan lakukan tiap hari adalah dua pekerjaan tadi. Namun saya sangat senang melihat keindahan di pantai desa Tadoy itu apa lagi dimalam hari ketika perahu berjejer dipinggir pantai membawa Ikan Teri yang beribu-ribu ekor.

Tiba tahun 2003 saya ingin lagi melanjutkan kuliah di STM Malesung Manado utnuk mengambil jurusan Bangunan, tetapi melihat segala kondisi, saya memutuskan untuk sekolah di SMK Cokroaminoto Kotamobagu dan mengambil jurusan Elektronika disana. Ayah dan Ibupun mengijinkan saya sekolah disana, waktu itu saya diantar oleh Ibu untuk pergi mendaftar ke SMK Cokro karena ayah tidak pernah ingin pergi mengantar saya ke sekolah sejak saya TK, SD,SMP,SMK dan Kuliah (Ayah bilang jika saya mengantar kamu, maka mereka akan tahu saya ayahmu. Ayah ngak mau guru-mu tahu jika saya ayahmu, nanti kamu di beri nilai bagus ama mereka gara-gara mereka kenal dengan saya). Disana pendaftar sudah banyak, namun ada satu jurusan baru yang pendaftarnya hanya 36orang, sedangkan jurusan lain sudah lumayan banyak pendaftar. Jurusan itu adalah Jurusan Teknik Informatika, sayapun memilih itu dan menjadi pendaftar ke 37.

Waktu terus berjalan, hampir selesai tahun pertama sekolah, kemudian saya memutuskan untuk tinggal di kota saja biar dekat ke sekolah, mengingat keadaan ekonomi mending tinggal di kota sambil kerja. Waktu itu dapat tawaran dari guru saya pak Santri Jaya dan Pak Fadli untuk kerja di toko Perkasa Computer. Toko itu adalah toko kelas wirausaha SMK cokro yang mana siswa Teknik Informatika yang sering menjaga toko tersebut dan saya yang tinggal di dalamnya. Lumayan karena tidak ada biaya kos-kosan, makan biasaya sering ditraktir oleh pelanggan yang datang men-service komputer disana dan memang tergolong baru jadi toko-nya lumayan laris dan sering dapat Fee (bonus). Karena senang dengan komputer jadi setiap pagi sudah ke sekolah, membersihkan lab, dst hingga akhirnya naik kelas 3 SMK.

Ketika itu saya ikut Lomba LKS yang diadakan setiap tahun di masing-masing Kab/Propinsi/Nasional utusan SMK Cokroaminoto Kotamobagu hingga saya ke Bali dengan tim dari Manado, saya sendirian dari Kotamobagu tidak ada pendamping, pokoknya siapa aja tim rombongan dari Manado, Tomohon atau Bitung ya ikut bareng aja, mereka teman-teman baru LKS (jadi anak bawang, diajak kesana-kemari pokoknya ikut aja). Akhirnya saya banyak kenal dengan orang-orang Diknas dan LPMP Manado, bahkan sepulangnya dari Bali sempat tinggal di rumahnya Pak Dani Rompas (Pegawai Diknas Manado) sebelum balik ke Kotamobagu karena ngak tahu mau tinggal dimana di Manado (HP pun hanya dipinjamkan saat itu oleh Guru saya, walaupun jurusan Informatika dan sudah tahun 2005, namun saya tidak punya Handphone sama sekali). *sesekali sempat terlintas mau minta belikan HP namun akhh mending ulurkan saja niat tersebut, HP belum penting menurut saya waktu itu.

Mungkin orang lain melihatku penuh dengan kesenangan (tidak akan tahu tentang apa yang kurasakan), karena saya munitupinya dengan suasana yg selalu senang, tertawa bahkan ketika aku menghadapi hal tersulitpun yang pernah saya alami saya selalu menutupidan membelokkannya dengan becanda, senyum dan tertawa… maka tidak ada orang yang mengetahui hatiku dan perjalanan hidupku yang sebegitu sulitnya.

Di perjalanan hidupku, tanpa disangka-sangka ketemu dengan seseorang di Denpasar Bali waktu lomba LKS 2005. Ia bernama Bapak Dr. Gatot Hari Priowirjanto, itulah nama lengkap beliau yang tidak akan pernah saya lupakan atas izin Tuhan dan sepanjang rohku hidup. Beliau lah yang membuat program Joint Program dan menyekolahkan saya (dan kawan-kawan lain yang pernah mengikuti lomba LKS) di VEDC Malang/PENS-ITS/UIN Malang selama empat tahun (2005-2009).

Detik-detik menegangkan, setelah ada pengumuman lulus Beasiswa tahun 2005, yang saya pikirkan adalah bagaimana supaya saya sampai di VEDC Malang (di pulau Jawa). Ayah waktu itu sudah semakin tua dan sakit-sakitan, di benakku adalah mending saya jadi Guru saja di SMK Cokro biar tidak membebani orang tua. Hingga akhirnya tinggal sekitar 20hari keberangkatan, Ayah bilang jangan khawatir, kita jual saja tanah Ibu yang di Tadoy dan jaring-jaring penangkap ikan kita untuk membeli tiket pesawat dan Laptop mu (karena syarat kuliah di VEDC Malang diwajibkan setiap mahasiswa jurusan IT untuk punya laptop, dan itu tidak termasuk Beasiswa yang saya dapatkan). Hingga saat ini laptop itu masih terus terjaga di Rumah di Muntoi dan masih digunakan oleh ponakan kecilku tuk bermain komputer, itu adalah benda bersejarah yang banyak membantu dan menemani saya sepanjang tahun 2005 hingga 2009.

Semasa di pulau Jawa, paling 1 bulan 2 kali kunikasi dengan ortu, itupun pinjam HP teman sekelas. Hingga akhirnya tahun 2007 karena sudah aktif di JENI VEDC mau tidak mau udah harus beli HP. Alhamdulillah akhirnya punya HP juga, berkat gaji tambahan kerja di JENI. Selain teman-teman seangkatan, tim JENI bagaikan keluarga baru bagi saya, saya merasakan seperti waktu kerja di Perkasa Computer, disana mulai dekat dengan para Dosen bahkan Gedung Putih. Disini saya bertemu kembali dengan Pak Gatot Hari Priowirjanto untuk yang ketiga kalinya (yang kedua, ketika pembukaan mahasiswa baru VEDC 2005). Beliau waktu itu ke malang dan meminta kami berempat (Saya, Azis, Mujib dan Arif) untuk magang di VEDC. Disitulah saya lebih mengenal beliau, diskusi lumayan lama dan walaupun beliau waktu itu adalah Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri (BPKLN) Kemdikbud, namun kami bebas sekali berdiskusi dan waktu itu lesehan pula.

Kami semua ditanya beliau: kenapa kalian mau magang di dareah atau di perusahaan? kenapa ngak magang saja di VEDC?
Kami menjawab: Kita sudah terlanjur dengan perusahaan kontak-kontakan, dan jika kami magang disana maka ada peluang untuk kerja disana setelah selesai kuliah.
Beliau: Ini ada guru-guru dan dosen-dosen yang akan di diklat di VEDC, jika kalian pergi nanti kita kekurangan tenaga. Ini program Nasional dan ini kepentingan Negara, kalian pilih mana kepentingan pribadi atau Negara???
Secara spontan kami menjawab: Kepentingan Negara Pak.
Beliau: ya sudah kalian nanti magang disini saja.

Banyak diklat Java yang dilaksanakan disana sampai saya tamat tahun 2009. Setelah saya lulus kami kemudian dipanggil bekerja membantu beliau di SEAMOLEC, lalu dikuliahkan lagi S2 di ITB selama dua tahun(2010-2012). Ketika lulus program Magister saat itu, beliau berkata kepada saya: saya minta tolong lagi untuk mengurus Solo/Jawa Tengah di Universitas Sebelas Maret(UNS) sambil kamu pikirkan mau sekolah S3 dimana.

Sejak kuliah S2 mamang pernah terlintas untuk melanjutkan S3 namun negara itu bukanlah Russia melaikan Prancis, Jerman dan Amerika. Pernah juga ditawarkan oleh pembimbing dan dosen-dosen di ITB untuk kuliah S3 disana dengan sistem residensi (stay full time di kampus ITB biar cepat selesai).

Jalan hidup sudah ada yang mengatur, kita sebagai manusia tinggal menjalani sebisa dan semampu kita dalam melakukan hal terbaik yang kita bisa. Tiba-tiba ada info waktu itu bahwa ada lowongan kuliah di Russia.

Kurang lebih prosesnya 9 bulan sejak Desember 2012 hingga akhirnya keberangkatan saya bulan September 2013, saya mengurus segala keperluan dan administrasi dokumen-dokumen yang diperlukan oleh pihak kampus . Jadi memang progresnya lumayan memakan hampir waktu setahun dan itu adalah bagian dari proses perjalanannya, menurut saya itu juga bagian dari kuliah S3 saya, not just at the campus but in the real life.

Akhirnya saya tiba juga di Russia, tentu saja dengan segudang harapan dan cita-cita semoga kelak nanti dapat berguna bagi nusa dan bangsa dan membangun tanah air, Negeri tercinta Indonesia. Untuk sementara kegiatan di Indonesia full Pendidikan Jarak Jauh dulu.

Pak Gatot pun kini berjuang keras untuk memajukan pendidikan di Indonesia dan Asia Tenggara. Beliau selalu ingin menyekolahkan putra-putri daerah yang punya potensi namun belum mempunyai kesempatan. Hampir setiap semester selalu saja ada yang disekolahkan oleh beliau melalui program-programnya, karena memang hobinya adalah menyekolahkan orang-orang dengan harapan berubah nasibnya karena pendidikan.

Hidup ini adalah anugerah dari Tuhan harus kita syukuri apapun nikmat yang telah Tuhan berikan kepada kita sekecil apapun itu, setiap orang perjalanan atau prosesnya pasti berbeda-beda, kadang kala Tuhan tidak langsung membantu kita namun melalui perantara, seperti Tuhan yang membantu saya melalui tangan seseorang yang kami sebut Pak GHP.

Saya hanya berdoa semoga Tuhan selalu membalas kebaikan beliau dan semoga beliau diberikan kesehatan, umur panjang dan tetap dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.

Sajarwo Anggai
Kandidat Nauk,
Saint Petersburg State University.

 

  1. amazing story ,, its an inspiration story!!
    how to be a person from zero to hero, keep it up.
    proud to you!!!

  2. keren omm.. jadi pengen lanjut nih omm😀

  3. mantab .. sangat menginspirasi … semoga lebih banyak lagi anak bangsa yang selalu punya harapan dan semangat untuk negeri ini …

  4. Mantap pak sangat menginspirasi, saya juga dari kampung. Saya tidak pernah menyangka bisa kuliah di pulau jawa apalagi di salah satu perguruan terbaik di Indonesia. Saya pengen sekali untuk melanjutkan S2 diluar negeri namun saya lemah di bahasa inggris dan disisi lain saya tidak cukup uang untuk kursus bahasa inggris.
    saya sudah coba kursus namun masih belum bisa, sudah tes ELPT dan TPA nilainya masih kurang sekali, mau mengulang tidak ada biaya. Mudahan-mudahan saya bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.

  5. Keren..semoga menjadikan semangat buat anakku utk melanjutkan pendidikanya ke jenjang yg lebih tinggi, meskipun semua serba terbatas..

  6. Entah mengapa, membaca tulisan Bapak sy merasa terharu…rupanya hidup yg sesungguhnya adalah berjuang.Hebatnya lagi, berjuang untuk negara, krn tak banyak manusia yg terlahir sebagai WNI yg memiliki niat dan cita2 yg baik utk bangsanya..keren!!!

  7. Perjalanan panjang yang mengantarkan anda kedalam kesuksesan. There are always price for every sacrifice… I was first met you at Seameo Seamolec workshop. Ternyata ada banyak kisah dibalik kesuksesan yang diraih saat ini. Well done anyway:) semoga sukses selalu…

  8. Well done:) I was first met you at Seameo Seamolec workshop. Ternyata ada banyak kisah dibalik kesuksesan yang diraih… Keep success…

  9. keren mas.
    salam jpba – TO – 6.1🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: